Versi1 Daun Cinta



Daun Cinta versi 1

Asal nama daun cinta (mainkan imajinasimu)
Asal nama daun cinta itu punya cerita. Jadi gak nongol gitu aja. Agak keramat gitu sih ceritanya. Gimana ceritanya? Ini dia.

Teng tedeng tedeng. Pukul 3 dini hari. Tiba-tiba lampu padam. Hanya siluet cahaya petir yang datang silih berganti menerangi. Kakiku bergetar bukan karena ketakutan. Tapi handphone di saku celanaku berdering. Ternyata alarm shalat. Dingwa (nama kucing hitamku) melompat ke atas meja makan dan mengambil ikan goreng.
Aku terkejut saat sehelai daun mangga depan rumahku tiba-tiba jatuh karena sudah kering. Aku mengambil kemudian menggenggamnya. Meski aku lebih berharap dapat buahnya dibandingkan daunnya. Aku berdiri tegak menatap langit dan hujan. Tiba-tiba sesuatu mengilhamiku. Aku memutuskan pergi ke hutan terlarang. Mencari jawaban.
Tiba di hutan terlarang. Sesunggahnya aku sedikit takut. Hutannya sangat lebat dan kata orang banyak makhluk-makhluk aneh di sini. Tapi, kalau sampai ketemu edward cullen sih gak pa-pa. Dan ternyata aku benar-benar ketemu dia dan aku langsung break dance sambil teriak, “Oh My Prince, jadikan aku vampire. Bawalah aku pada keabadian bersamamu”. Maka datanglah segerombolan hewan membawa serangkaian alat musik dan memainkan River Flows in You-nya Yiruma.
Tapi dia malah bilang, “Sorry, I just looking for bananas. Bella is hungry. We are camping now. Can you “minggir”?
Aku nurut.
Dan betapa kagetnya aku. Saat aku menyadari ternyata aku sedang berdiiri di depan pohon pisang. Dan betapa ironisnya saat melihat edward berkelahi melawan sekumpulan monyet demi mendapatkan pisang.
Setelah berhasil ia mendatangiku dan berkata,”Twilight sudah habis, musuh saya sekarang monyet bukan serigala.”
D. R. A. M. A. T. I. S
Aku terus menyusuri hutan. Berbekal sebuah tongkat yang membantuku berjalan. Aku banyak menemukan hal-hal unik di sini. Sebagai the most “aneh” person bagi teman-temanku, segala hal yang tidak biasa bagiku itu unik. Entah kenapa bagi teman-temanku, keanehan adalah kewarasan untukku dan kenormalan adalah sesuatu yang gila dariku.
Setelah lelah menyusuri hutan, pandanganku terhenti pada sosok putih-putih dengan rambut yang tergerai panjang dengan gerobak di bawah pohon beringin. Dengan ragu aku mendekat dan mendapatkan sesuatu yang benar-benar tidak biasa. Pelan-pelan aku menyapa.
“Kunti”, tanyaku pelan.
“Iya”, jawabnya.
Tuh kan benar. Kuntilanak. Batinku dalam hati
“Kunti jual batagor?”
“Iya. Kenapa? Mau pesan?”
“Iya mau. Kebetulan saya lagi laper.”
“Berapa porsi?”
“Satu aja.”
Aku pun duduk di bawah pohon beringin menunggu batagor kunti di buat.
“Kunti, aku boleh nanya gak?”
“Nanya apa mba?”
“Kok jual batagor sih?”
“Soalnya pekerjaan nakutin manusia sekarang sudah tidak menghasilkan mba.”
“Kok gitu?”
“Iya. Semenjak banyak setan-setan yang jadi aktor semi pelawak gitu mba. Kan ada tuh yang judulnya 3 pocong idiot lah. Pocong vs kuntilanak. Dan lain-lain mba. Jadinya kalau pas kita baru nongol di depan manusia, bukannya teriak mereka malah ketawa. Malahan saking lucunya muka kami di depan mereka mungkin. Ada yang sampai guling-guling sambil ketawa. Sedihkan mba. Saya ngerasa kemajuan peradaban seperti televisi mulai bikin manusia gak waras deh mba. Setan bukannya ditakutin malah diketawain. Bukannya dihindarin malah dicari-cari.”
“Sabar ya kunti”, kataku sambil manggut-manggut mendengar curhatannya.
“Iya mba, saya ngerti kok. Buktinya mba gak takut ngeliat saya.”
“Sebenarnya tadi agak takut sih. Tapi, rasa laparku ngalahin ketakutanku kunti.”
Setelah makan batagor, aku pun melanjutkan perjalanan. Tiba di sungai aku mencuci muka. Lalu di ujung tebing kutemukan sebuah gulungan.
“Apa ini? Gulungan hutan terlarang kah?”
Ku buka gulungan itu dan ternyata di situ tertulis:
Jika ingin menemukan jawaban atas pertanyaan yang bahkan kau tak tahu apa. Pergilah ke atas bukit Dharma dan cabutlah pedang yang tertancap di atas batu di atas bukit itu.
“Bukit dharma? Di mana itu?”
Aku lalu melanjutkan perjalananku lagi. Dan kusimpan gulungan itu di dalam ranselku. Tak lama berselang ku dapati sebuah bukit yang dipenuhi pepohonan. Dengan tertatih aku mencoba mendakinya. Tapi sayangnya sebelum sempat mencapai puncaknya aku terpeleset.
Tiba-tiba doraemon lewat dan menolongku.
“Kamu tidak apa-apa?”
“Ya. Terima kasih sudah menolongku.”
“Kamu mau kemana?”
“Aku mau ke puncak bukit. Doraemon sedang apa di sini?”
“Aku dan teman-teman sedang mencari peliharaan nobita yang hilang.”
“Peliharaan apa?”
“Dinasaurus kecil.”
“Emang ada ya?”
“Iya. Itu diambil dari masa depan. Di masa depan dinasaurus bangkit kembali tapi dalam versi mini.”
“Mari membayangkan”
“Kalau kamu mau ke puncak bukit. Aku bisa nolong kamu. Sebentar.” , Doraemonn terlihat mengambil sesuatu dari kantong ajaibnya. “Ini dia. BALING-BALING BAMBU. Kamu pakai ini saja.”
“Terima kasih dora.”
Akhirnya dengan bantuan doraemon aku bisa mencapai puncak bukit. Disana aku lansung melihat sebuah pedang yang tertancap di batu sesuai dengan yang tertulis di dalam gulungan. Tanpa ba bi bu lagi aku langusng menarik pedang itu. Dan ternyata ia tercabut begitu saja.
“Mungkinkah aku adalah ksatria hutan terlarang ?”
Sedetik kemudian, seperti ada sebuah energi besar yang menarikku bersama pedang itu. Dan aku pun terbang melayang di angkasa menuju satu tempat sambil menyanyikan lagu I belive I can fly .
I belive I can fly
Aku tiba di sebuah gua dengan pendaratan yang menyedihkan. Kepala mendarat duluan tepat di lumpur. Tepatnya aku tidak tahu cara mendarat tapi jatuh. Beginilah jika terlalu terbuai dengan langit tapi lupa dengan bumi. Sepertinya aku masih harus latihan terbang dan juga mendarat. Agar tidak jatuh dan merasa sakit.
Di dalam gua kulihat seorang pertapa dengan balon warna-warni (?) yang menghiasi gua (Wildy tidak akan suka gua ini >> Wildy=benci balon selamanya).
“Akhirnya datang juga”, ucapnya ringan seperti kata-katanya bagai judul acara tv
“Kakek sudah tahu aku mau datang?”
“Ya. Pertemuan hari ini telah ditakdirkan berjuta tahun yang lalu. Kadang kau bisa tahu hanya dari mendengar suara alam (?)”
“Tapi, kek. Kenapa banyak balon disini? Ada yang ulang tahun?”
“Oh tidak. Ini semacam ceremonial untukmu. Sudahlah abaikan saja. jadi apakah tujuanmu berkelana sejauh ini?”
“Aku Cuma bingung mau kasi judul blog saya yang baru apa. Soalnya blog aku yg sebelumnya sudah kuhapus.”
“What? Kamu sampai ke hutan terlarang Cuma karena itu?”
“Yups. Aku kan suka journey gitu. Seru aja gitu mendapatkan sesuatu dari sebuah perjalanan panjang meski hanya sesuatu yang sederhana dan tak begitu berarti di mata orang lain bahkan meski hanya kata, hanya cerita.”
“Ciyus? Mi apa?”
“Mi goreng.”
Tiba-tiba siluet putih-putih (2) datang menghampiri. Bedanya ini lebih sedikit atraktif. Dia terbang mengelilingi gua dengan sedikit akrobat dan mendekatiku lalu bertanya, “Siapa tadi yang minta mi goreng?”
“Eh? Saya”
“Mau pesan? Saya jual loh mba. Mba pasti capek kan? Ya iya dong capek setelah mengelilingi hutan terlarang. Terus pasti lapar. Saya buatkan 1 porsi mau dong” , kata si kuntilanak (2) dengan gaya yang cukup centil.
“Boleh deh.”
Wuussshh. Maka melesatlah si kunti 2 ini menuju gerobaknya yang terletak di ujung gua.
“Kek, setan-setan di sini jadi pedagang semua ya?”
“Cuma beberapa kok. Eh. Yang ada di saku jaket kamu itu apa?”
“Oh ini daun mangga depan rumahku kek.”
“Wah kamu segitu cintanya sama alam. Sampai meski sudah mati tetap di bawa-bawa.”
“Cinta? Daun? Daun cinta. Aaah sekarang aku tahu kek.”
“Tahu apa?”
“Aku balik dulu ya kek. Dah”
Aku terseret kedalam pusaran waktu yang membawaku langsung ke dalam kamarku tepat di depan laptopku yang masih menyala.
“Hem, daun cinta.”

0 comments:

Post a Comment