Tuesday, September 25, 2018

Hey Hey Hello till The Next Hello

Halo kau, saya masih ingin berbicara panjang. Bukankah saya memang selalu serumit itu?

Suatu hari yang baru-baru. Kau sudah tak menyediakan diri untuk mendengar apa-apa.

Kau tak mengerti lagi katamu. Kau tak punya waktu katamu.

Lalu kita jadi apa?

-----

Hey kau, saya tak lagi berbicara apa-apa.

Kau datang mencari perasaan yang hampir hilang.

Atau barangkali hari itu kau hanya mengecek saja. Masih kah ada?

Saya meluruhkan diri, mengira kita bisa memperbaiki ini.

------

Hey kau,  saya masih tak ingin berbicara panjang.

Kita tak lagi berbicara dengan baik. Amarahmu menyulut amarahku.

Kita tidak lagi tahu sedang dan ingin menuntut apa kepada masing-masing.

Katamu, sesekali kita butuh diam yang panjang. Tapi katamu juga kau tak ingin diamku ketika pernah kutanyakan  "do you really want my silent?"

Katamu, bicaraku kembali terlalu banyak ketika amarahku kau paksa menyala lagi. Tapi katamu juga kau tak suka kuberikan kata-kata pendek.

Saya harus apa?

------

Halo kau, saya mencoba lagi dari awal, ini yang terakhir kataku seolah tak kapok dengan kalimat yang sama.

Tapi, kau sedang tak sepi lagi. Saya tak sampai lagi padamu.

Tak bisa kutanyakan, sebab kau akan membuatku merasa saya seperti pengganggu dimatamu. Kau selalu berkata seolah waktumu yang paling berharga. Ah sepengganggu itukah aku?

Betapa kita memang tidak bersinggungan lagi perihal kepentingan-kepentinganmu.

------

Hey kau,  haruskah kita hanya berbicara yang penting-penting saja.

Menjadi asing bagi masing-masing.

Tak lagi saling hadir ketika kalah dari dunia nyata, pekerjaan-pekerjaan, manusia-manusia yang hanya datang ketika kita punya sesuatu.

Tak lagi saling bersandar ketika kita tak mampu lagi membopong beban-beban.

-----

Hey kau, suatu hari ketika kau terlalu lelah dengan yang kau jalani, lalu mencariku dan saya sudah bisa kembali mencintai hening yang tak ada kau disana.Yakinlah kau tak sesepi itu sampai harus mencariku.

Di tempat ini, tempat yang kita tuju setelah berjuang bersama, kau tak lagi sesendiri dulu.

Kau akan baik-baik saja. Kau sudah lepas dari orang-orang yang menekanmu. Kau tak perlu kutemani lagi untuk menjadi kekuatanmu.

Saya tak perlu lagi berlari kesana kemari, menyelesaikan hal dengan terburu-buru ketika kau sedang demam.

Saya tak perlu lagi, memadatkan jadwal-jadwal agar punya waktu makan siang.

Kau sudah tak butuh peranku lagi.

Bukankah hal-hal itu yang membuatku menjadi pengganggu disisimu?

Keberadaan-keberadaan yang tak perlu ada.

Aku yang overthinking atau kau yang menyepelekan hal-hal kecil yang kita perjuangkan begitu sulit?

----

0 comments:

Post a Comment