Friday, June 30, 2017

Jendela Rumah Panggung

Aku selalu suka langit desa ini ketika menyentuh malam. Dari senja hingga bintang-bintang. Aku tidak pernah melihat langit malam seramai itu di kotaku. Tidak juga di tempat rantau ku setengah tahun yang lalu meski minim lampu kota malam hari.

Tapi duduk-duduk ku di jendela rumah panggung kali ini tidak untuk bintang-bintang. Untuk sebuah kabar, untuk yang kucemaskan hari demi hari-hari, untuk yang kurindukan-ah, kapan tidak. 

Hanya pesan-pesan singkat yang gagal berkali-kali, lalu kuulang dan kuulang lagi.

Friday, June 23, 2017

Sudah kubilang, menetaplah

Perkara kesedihan-kesedihan
Yang menemukan caranya kembali
Perkara kepergian-kepergian
Yang membuatmu kehilangan

Menangislah

Saturday, June 17, 2017

Selamat Ulang Tahun, Aku.

Malam-malam sebelum aku memimpikanmu lagi kekasihku. Di juni yang duka, aku bermimpi tentang pemakaman. Mimpi-mimpi yang paling damai.

Lalu ketika sampai ke tangga berikutnya dalam usiaku. Kau hadir sekali lagi. Lebih lama. Lebih dekat. Barangkali aku ingin kau benar-benar hadir. Mendekapku. Barangkali aku tak ingin kau kemana-kemana. Barangkali aku yang memang sudah tak ingin kemana-kemana. Disisimu saja.

Perihal mimpiku semalam, aku lupa. Aku selalu lupa pada mimpi-mimpi yang terlambat kutulis. 
Hanya saja, aku tak pernah ingin lupa jika kau ada.

Oh iya,

Selamat ulang tahun aku,

Wednesday, June 14, 2017

Tentang rasa sakit

Perempuan itu
mulai mati rasa

Tapi ah tidak juga

Bagaimana menyebutnya ya

Ia tahu ia luka

Hanya saja

Ia tahu ia tidak boleh peduli lagi pada lukanya

Mungkin saja begitu

Atau ia kehilangan

Tuesday, June 13, 2017

Ruh Telah Ditarik

Ke pemakaman
Tanah-tanah lapang
Tanah merah dan nisan-nisan

Seekor elang terbang berputar-putar
mengelilingi pepohonan
di jalur penerbangan
Tidakkah ia takut pada pesawat-pesawat
yang terbang rendah
Mereka begitu dekat
sesekali bersisian

Tidak katanya
Sang elang percaya pada ketetapan

Ada Yang Hilang

Aku seperti tak bisa merasakan kakiku sendiri
Sudah lama tak merasa seterpukul ini

Bagaimana bisa kosong dan sesak berada pada yang sama

Ada yang hilang
Ada yang kembali ke Empunya

Katakan pada yang pergi
Jadilah bidadari

Saturday, June 10, 2017

Hanya bunga tidur, aku masih bersamamu kan?

Halo puisiku, bagaimana demammu?

Hari ini aku bermimpi terbang tinggi, menuju cahaya. Cahayanya silau sekali, aku tak bisa melihat apa-apa selain cahaya putih. Tapi kau tahu yang lebih aneh? Aku tak memejamkan mata seperti biasanya aku. Mungkin karena cahayanya damai. Ya, damai. Rasa-rasanya di bagian ini, aku tersenyum dalam mimpi.

Aku juga bermimpi ditarik pergi. Ke kota jauh. Kali ini nafasku jadi berat. Di bagian ini aku memikirkamu. Padahal aku sudah memutuskan menetap disisimu. Padahal aku sudah sengaja tidak pergi lagi jauh-jauh. Semakin orang tua -yang tak kukenali- itu berbicara, dadaku semakin sempit. Di mimpiku itu, aku melihat bayangan wajahmu yang tersenyum kepadaku. Ah bahkan dimimpiku, aku membayangkanmu.

Monday, June 5, 2017

Tulisan Pengantar Tidur (mu)

Selamat malam kekasih,

Boleh kah kutulis kau lagi malam ini?

Jika kau ingin tidur lebih awal lagi seperti malam kemarin, maka tidurlah yang lelap.
Jangan lupa cuci muka dan cuci kaki.
Mimpilah tentang aku, jangan yang buruk-buruk. Aku ingin menemanimu, menemuimu, meski ragaku masih saja tak mencapaimu malam ini.
Lagi-lagi.

Jika aku juga bermimpi, aku ingin bermimpi duduk  di ujung tempat tidurmu.
Mungkin bulan turun lagi, lalu kami duduk bersisian,
menjagamu.

Selamat malam sekali lagi,

Selamat tidur.

Friday, June 2, 2017

RiP (Supposed to be) The Happiest Month, June

Daun-daun tumbuh dari pohon-pohon kering menjelang Juni
Hujan turun tepat di akhir malam bulan Mei

Tapi hatiku sudah gugur dan dingin

Terlalu awal untuk kesedihan yang panjang
Terlalu dini untuk kekosongan yang dalam

Tahun yang sulit untuk bulan Juni

Jangan menangis
Jangan terlihat menangis
Atau bayi-bayi tidak lagi bermain

Jangan bersedih
Jangan ketahuan sedih
Atau mimpinya melukai

Tetapi, terlalu banyak tapi