Sunday, April 30, 2017

Sisa sisa Luka Semalam

Perempuan itu
tak lagi bisa ia sembunyikan
kesedihan dimatanya itu

Sudah kubilang padanya untuk berhenti
menaburi  garam luka-lukanya
malam demi malam

Tapi ia hanya menatapku kosong
dan berkata
"Aku mencintainya"

Lalu pergi membawa kapas dan obat merah

Juga beberapa butir garam

Aku (masih saja) menginginkanmu

Aku tidak boleh menginginkanmu hari ini kan
Begitu pula esok hari
Pun hari kemarin

Barangkali esoknya lagi
aku bisa
Lalu kita berpura-pura lupa
telah menjadi masing-masing

Kau dan kekasihmu
Aku dan sendiriku

___

Makassar,

di penghujung april
dan rindu tanpa ujung.

Kau tidak sedang bersamaku

Ketika aku tak disampingmu
adakah aku dihatimu
Ketika bukan aku yang bersamamu
pernahkah kau memikirkanku

Ketika kau bersama kekasihmu

Barangkali,
Barangkali saja kau tau kau mencintaiku.

Atau tidak sama sekali.

Saturday, April 29, 2017

No one

No one

Not you

No others

Not me

__

Jika kau tidak ingin satupun dari puisi-puisi itu, maka
tidak juga untuk yang lain.

Aku yang menulis mu, hanya
sedang bisa menulismu,
tidak untuk yang lain.

Aku yang tak punya puisi
untuk diriku sendiri
tidak sedang menulis untukku
sendiri
Atau mungkin sudah,
jika itu luka.

Di ujung puisi ini,
mungkin kau baru saja
memahaminya

Tentang kau dan puisi-puisiku.

Atau mungkin baru nanti.

Setelah habis.

Setelah sudah.

Thursday, April 27, 2017

Para-doksku

Paradoksku
Paradoksmu
Kau murka?
Aku luka dan berdarah

Aku mencintaimu

Betapa pun kau tidak

Dekat yang Jauh

Kamu sudah lupa saja tentang banyak hal
Tentang bagaimana aku
Bagaimana harusnya kamu

U

Do u

Monday, April 24, 2017

Kepada Malam : Apa lagi kali ini?

Si aku mengutuki malam-malam pekatnya lagi
Atau barangkali juga dirinya sendiri

Sekali lagi ia dibangunkan matanya yang basah
begitu saja, tanpa alasan
Sekedar pengganggu tidur

Ia, Si aku, sudah hapal betul sesaknya itu

"Besok libur, tak masalah,
pagi aku bisa tidur"

Meski menggurutu
diam-diam hatinya
berterima kasih

Bukankah memang selalu bagitu?

Saturday, April 22, 2017

Kesedihannya

Perempuan itu
Kau tidak tahu seberapa dalam kesedihan yang ada di matanya
Sampai kau dapati pedih
di senyumannya melebihi air matanya

Lalu ia menciummu
Tapi kau yang menangis

Barangkali dia sudah
Semalam tadi
Atau pagi tadi

Karena mencintaimu tapi kamu tidak

Friday, April 21, 2017

Lalu aku (tidak) menangis

"Mom mauka nangis"

"Menangis meki nak, siapa tau langsung ringan kepalamu"

But, I cant mom

That tears wont come out

Hanya sesak-sesak

Hanya isak-isak

Merebahkan kepalaku di pangkuanmu setelah sekian lama

Aku sudah lebih baik

Terima kasih

__

Makassar, 21 April

Dari yang hari ini semestinya sibuk

Oiya selamat hari kartini

Wednesday, April 19, 2017

Jelesi ^^

Aku menginginkanmu sudah kukatakan bukan?

Aku menginginkanmu berkali-kali
Aku menginginkanmu selalu

sebelum bersamamu
ketika bersamamu
setelah baru saja bersamamu

Dan aku seorang pencemburu
Aku ingin kau untuk ku saja

___

Kepada satpam pintu masuk, memang manis, tapi milikku. Jauh-jauhlah.

Kepada wasap, sensi sekali padaku, aku juga rindu padanya, selalu.

Kepada yang lebih dulu hadir di hidupmu, menetap dan menjadi istimewa, aku cemburu.

Kepada yang membuat hatimu senantiasa merekah, aku masih cemburu, tapi terima kasih, tetaplah bersamanya.

Saturday, April 15, 2017

Nite u, sleep well, u. Do u.

Kau tidurlah saja.
Lelap lah tanpa mimpi.

Biar aku yang terjaga.
Kadangkala malam mencintaiku

sekali.

Tapi aku cinta kau.

Friday, April 14, 2017

Kepada Awan Putih: Aku masih menulis

Pagi-sebenarnya siang- dering telponmu memaksaku benar-benar bangun hari ini. Kabar bahagia-juga beberapa tetes rindu- kau utarakan bertubi-tubi. Kukira kau hanya sekedar akan bertanya dimana aku lalu sudah seperti hari kemarin. Nyatanya tidak, kali ini lebih lama -meski tdak seperti yang biasanya kita-. Lebih bercerita. Kau hadir lebih utuh-tapi ah tidak juga-. Kau -sedikit menggurutu- sibuk sekali mengurusi ini itu. Tentu saja. Itu hari yang penting bukan.

"Lagi nungguin tenda"

"Mama Papa mau ke London"

"Undanganmu di kamarku"

"Datanglah"

"Blogmu.. menulislah"

_

Aku menulis awan putihku. Masih menulis. Beberapa puisi. Aku bahkan menghitung jumlahnya padamu. Hanya saja aku tak membaginya kali ini. Tidak. Tak kusimpan sendiri. Kuberikan. Kepadanya. Kau tak mengenalnya, belum -mungkin tidak kukenalkan-.

Ada beberapa puisi untuknya yang tak tertulis di buku biruku sebenarnya. Beberapa tersebar -yang entah dia sadar itu untuknya atau tidak-.

Aku ingin bercerita banyak sekali tentangnya -tapi mungkin sebaiknya tidak-.

Malam ini, hatiku sedang gersang awan putihku. Aku menunggunya pulang -entah kenapa-. Padahal ia tak menujuku. Hanya saja sudah tengah malam. Aku ingin dia baik-baik saja.

Eniwei, hening kita di telpon pagi ini terasa berbeda. Rasanya jauh sekali bukan? Ah, masa mempermainkan kita sekali lagi, para manusia.

Bahagialah.

___

Makassar, Apr 15th.
12 AM