Tuesday, May 3, 2016

Padang Mati 2

Si Aku kembali ke malam-malam sesaknya. Malam-malam yang sempat ia lupakan. Mendung itu pelan-pelan sudah menggelapkan hatinya. Ia butuh ke padang mati.

Si aku berlari sekencang mungkin menuju padang matinya. Hatinya sekarat. Ia butuh meledakkan semuanya secepatnya.

Si aku tersungkur jatuh di padang matinya. Ia lupa. Si aku lupa betapa ia tak ada gunanya disini. Ujung penanya sudah patah sejak lama.

Si aku kembali bersama bom atomnya.  Awan-awan gelap yang bersemayam di hatinya. Yang akan menghancurkannya sekali lagi seketika.

Si aku ingin menangis sejadi-jadinya. Ia lupa. Si aku sudah lupa bagaimana lagi berair mata.

Si aku butuh hujan yang deras untuk memutihkan semuanya. Hatinya. Agar ia tak kembali ke malam-malam panjangnya.

Si aku benci malam-malam panjang itu.

Si aku kembali padanya,

Pada malam-malam panjangnya.

Bersama ujung penanya,

Yang patah.

Seperti hatinya.

Makassar, 3 Mei 2016
03.45 AM