Wednesday, November 12, 2014

Aku Sudah Lupa

~Kau tahu hal yang paling menyebalkan? Ketika memutuskan pergi lalu semesta seolah kompak mengembalikan segala rasa~

Padahal aku sudah lupa

‘’’’’’’’’’

Melepaskanmu. Aku hanya perlu berhenti memikirkanmu bukan begitu?

Aku meninggalkan sepi untuk tidak mengingatmu. Berharap jutaan manusia menelan ingatanku tentangmu. Menjadi sok sibuk kata orang. Apa saja yang memungkinkanku lupa padamu.

Tapi bagaimana bisa? Jika toko buku yang kudatangi malah memutarkan lagu-lagu yang kau gemari. Restoran yang kudatangi menyediakan makanan yang selalu kau pesan. Namamu yang pasaran disebut dimana saja aku pergi.

Sendiri saja sudah mampu membuatmu memenuhi pikiranku. Apalagi jika semesta ikut memaksaku untuk itu.

‘’’’’’’’’’

Hey kamu. Ini masih aku. Aku berhenti memaksa diriku melupakanmu seperti dulu berhenti memaksamu mengerti aku.

Berhenti. Melepaskan. Merelakan. Melangkah lagi.

Aku tetap merindu tanpa memaksamu bertemu lagi. Ikut bernyanyi ketika lagu-lagu kesukaanmu dimainkan. Melahap habis makanan kesukaanmu. Tersenyum mendengar namamu. Semua itu menjadi cara baruku menemuimu. Hingga nanti aku sudah terbiasa .

Aku berhenti melawan. Berdamai dengan hati. Menggerus luka itu setahap demi setahap. Pelan-pelan.

Hingga nanti aku sudah terbiasa.
Hingga nanti aku sudah terbiasa.
Hingga nanti aku sudah terbiasa.

Hingga nanti semuanya akan terasa biasa saja. Tentang kamu dan juga rasa.
Aku akan lupa. Pelan-pelan akan lupa.

‘’’’’’’’’
Hey kamu. Ini aku lagi. Kali ini aku sudah lupa.

Aku tidak lupa padamu. Bukan lupa itu yang aku maksud. Tapi lupa akan luka.

‘’’’’’’’
Hari ini kau berjalan di depanku. Sekian meter nun jauh disana. Kamu tidak melihatku. Hanya aku yang melihatmu, itupun tidak sengaja. Sudah biasa. Bedanya aku tidak lagi berlari  ke arahmu. Tidak juga sengaja berpaling pergi. Disini saja.

Karena semuanya sudah biasa saja.

Kau sudah bisa berjalan lagi.

Dan aku sudah lupa.

Ah, bukankah sejak dulu kau memang selalu berjalan pergi? Tanpa berpaling. Mungkin saja. Entahlah. Aku sudah lupa.

‘’’’’’’’
Happy ~end~

“”””
_Penulis lagi pengen ngomong ngelantur gak jelas:

Seriusan ini happy ending. Meski bukan tentang dua orang yang saling mencintai dan akhirnya menikah. Bukan pula dongeng negeri peri.

Hanya monolog tentang penerimaan. Berhenti memelihara rasa sakit. Mengizinkan waktu menjadi obat kapanpun ia mau.

Berhenti terluka. Bukankah tidak terluka itu bahagia? Entahlah. Mungkin saja. 
=

1 comment:

  1. waw.... lagi-lagi aku melihat pancaran sinar ah bukan hanya sketsa..:)

    ReplyDelete