Friday, May 24, 2013

Nothing

sedang penuh luka yang entah datangnya darimana. biar waktu yang menghapusnya. luka ini, mungkin besok sudah sembuh. jika tidak, maka besoknya lagi. luka ini akan segera sembuh, sirna berganti dengan bahagia. secepatnya. kamu percaya? aku tidak.

aku tidak baik-baik saja.

~
sedang meremukkan hati sendiri
ditengah nafas yang berhembus separuh-separuh
menangis kering dengan senyum yang paling manis
mati tidak mati, aku tidak peduli
~

22:03
24/05/13

Wednesday, May 22, 2013

Untukmu yang Tersakiti



Aku dan kamu percaya. Cinta ada bukan untuk menyakiti. Tapi jika mencintaiku membuatmu tersakiti, maka apakah yang mampu kuberikan selain maaf? Aku mungkin telah melukai hati entah sebagian, entah seluruhnya. Tapi tak mungkin sengaja.

Jika ada saat dimana aku berhenti merindu, aku berhenti mengatakan aku mencintaimu. Aku meminta maaf. Cinta itu, jika memang tak bisa kuberikan di saat yang kau inginkan maka tak akan kuberikan. Karena apakah arti cinta yang palsu?

Tidak, ia mungkin tidak mati. Tapi ia punya masa. Bukan masa kepada siapa, tapi masa berada di mana. Ada saat dimana ia tidak harus selalu kamu lihat. Ada masa dimana ia tidak bisa terus bersemi. Mungkin kala itu bunganya telah kamu petik seluruhnya. Atau mungkin ada yang telah layu dan mati. Maka tunggulah, tunggulah ia berbunga lagi. Kita tahu kita tak boleh memaksa. Karena kita tahu cinta tidak bisa dipaksa.

Maka ketika jeda itu harus terjadi. Mari kita coba merawatnya kembali, cinta itu. Kita siram lagi, hari demi hari tanpa jemu. Sembari menunggu waktu untuk ia berbunga kembali. Hingga bisa kita nikmati lagi di saat yang tepat.

Jika ada masa kamu merasa terabaikan. Aku meminta maafmu lagi. Karena cinta tidak harus selalu diumbar, ia juga butuh waktu untuk benar-benar dirasakan. Agar ia punya makna yang lebih dalam, yang membuat kita mensyukuri, membuat kita menghargai.

Tidak bisakah kita mencintai seperti air yang mengalir? Berhenti melawan arus deras dan mulai mengikutinya, menuju muara.

Mungkin mecintai seperti meminum air. Harus ada jeda setiap tiga teguk, untuk bernapas. Atau mungkin seperti menuangkan air ke dalam sebuah gelas. Harus berhenti ketika sudah waktunya berhenti.  Agar tidak ada yang terbuang percuma. Kita hanya perlu menunggu gelasnya kosong kembali atau gelas kosong berikutnya untuk kembali menuangkannya.

Karena segala hal perlu waktu yang tepat. Waktu diberikan. Waktu dihentikan. Karena ada waktu untuk diberikan. Ada juga yang tidak. Maka jangan lah berpersepsi, karena sungguh itu tidak baik. Lebih banyak membawa luka dan seringkali kesalahpahaman.

Tapi jika kamu sudah terlanjur merasa terluka. Jangan takut untuk melangkah pergi. Untuk apa bertahan pada yang menyakiti? Aku takkan tersakiti, mungkin sedikit. Tapi itu hanya untuk sementara, hanya ketika kamu pergi. Dan mungkin hari-hari berikutnya, bulan, tahun, masa. Entahlah. Tapi aku akan kembali baik-baik saja. Tidak tahu kapan dan bagaimana. Tapi kamu harus percaya karena aku percaya.

Dan jika kamu telah berhenti mencintai dan benar-benar pergi. Mungkin, akan ada detik dimana kamu menoleh kebelakang. Sekedar melihat bagaimana aku. Lalu kamu menyadari, kamu telah meninggalkan aku yang tak berhenti mencintai. Maka jangan menyesali dan memutuskan kembali. Karena mungkin, setelah kamu kembali hanya ada simpati dan bukan cinta lagi.

Maka apa pun yang terjadi. Pada akhirnya kita hanya mampu belajar ikhlas. Meski sedang menari-nari dalam duka.

Jangan menolak untuk ikhlas. Karena ia menuju damai.

Tuesday, May 21, 2013

Ya, Dia Tahu Kamu Membacanya

Hey kamu, ya kamu. Kamu pernah meminta tulisan untukmu kan? Itu loh, setelah kamu ujian tesis. Kamu masih ingat? Ini.

Ketika pertemuan demi pertemuan tak terjadi lagi, aku kembali dalam kondisi sedang “nakal-nakalnya” atau bisa dikatakan sedang “jatuh-jatuhnya”. Untuk apa aku mengatakan ini padamu ya? Mungkin aku hanya sudah terbiasa membuat laporan. Tapi kamu tidak perlu khawatir. Cukup aku saja yang khawatir sendiri *nah?

Tapi jangan takut, jangan sedih. Pada akhirnya aku mengerti. Kita telah tiba di masa dimana kita harus membiarkan aku berdiri sendiri. Belajar berjalan sendiri. Pada akhirnya aku yang harus mencari jalan dengan pelitaku sendiri. Dan kamu hanya perlu menunggu dengan tertawa-tawa mungkin, atau menangis, melihatku yang ternyata berjalan mundur. Semakin jauh dari yang seharusnya kutuju. Sudahlah, jangan memaksakan diri menyusul. Karena kita sama-sama mengerti peranmu bukan untuk itu lagi.

Wednesday, May 15, 2013

Surat Untuk Himawari



Sekali lagi usiamu bertambah dan jatah umur berkurang. Akan tetap begitu tiap tahunnya. Hingga ketika masamu telah mencapai akhir, detik akan menghentikan detakmu.

Saturday, May 4, 2013

Tanya Cinta



Hey dunia,

Hey kamu,

Yang masih saja dipermainkan satu rasa. Yang banyak jiwa sepakat menyebutnya cinta. Aku ingin bertanya. 

Ketika kita diam-diam sedang mengalami duka karena rasa itu. Apa yang sesungguhnya membuat kita tetap bertahan? Enggan pergi meski tersiksa.

Butakah kita? Seperti yang banyak orang bilang.

Kehilangan logika kah kita? Seperti yang banyak orang bilang.

Benarkah cinta itu buta? Lalu dengan apa ia melihat? Bagaimanakah ia menemukan?

Benarkah cinta mesti dengan logika? Apakah cinta itu hitung-hitungan?