Friday, May 25, 2012

Kebenaran Bukan Pembenaran

Aku selalu berusaha untuk terus mempercayainya
Tetapi, setiap kali aku mencari pembenaran untuknya
Yang kutemukan,
Hanyalah kebenaran yang bertolak belakang darinya

Kita mencari kebenaran
                                                                                                 Bukan sekedar pembenaran
Meski kebenaran itu

Sakit..

Kebenaran bukan pembenaran

Kata-kata itu terus berputar-putar di kepalaku. Membangunkanku. Menyadarkanku. Kata-kata itu diteriakkan Disa di kelas di tengah kemelut otak dan batinnya menyelasaikan tugas termodinamika-nya pak Bakri.

Di kelas, Senin 14 Mei 12

Aku sedang asik dengan laptopku. Lebih tepatnya sibuk mencari wi-fi sekolah yang hidup segan mati pun tak mau.

“Aaaarggh.. Kenapa begini?”, teriak Disa

“Apa sih? Kenapa disa nah?”, tanyaku

“Tidak tau”, jawab Ana dan Nayla berbarengan

Andisa lalu berbalik kebelakang. Melihat kami dan bertanya tentang soal-soal itu. Sebenarnya soal-soal itu di berikan pekan sebelumnya oleh pak Bakri dan sudah dikumpulkan hari itu juga. Tetapi, di hari itu Disa tidak ada karena harus menghadiri Technical Meeting lomba fisika di Unismuh. Jadi, dia baru mengerjakannya pekan berikutnya.

“Beda caraku sama caranya kalian”, kata Disa

“Beda? Apanya yang beda?”, tanya kami bertiga.

“Kalian caranya begini padahal sebenarnya tidak boleh di begitukan”, kata Disa

“Kenapa tidak boleh?” tanyaku.

“Karena kalau dipake rumus yang sebenarnya tidak sama jawabannya sama jawabannya kalian”, jawabnya.

“Rumus yang ini kalian ubah jadi begini, kalian tidak pake yang ini, padahal kalau pake yang ini beda sama kalau di ubah jadi begini, terus katanya, pak Bakri kasi benar jawabannya kalian. Tapi, tidak setujuka sama caranya kalian. Menurutku tidak begitu. Harusnya rumusnya pake yang ini, tidak bisa di ubah jadi begini karena beda. Pokoknya beda. Tidak bisa kalau begitu”, celotehnya.

Sejujurnya aku sih tidak mengerti dengan penjelasannya. Habis yang dia katakan rumus-rumus semua sih. Otakku yang pas-pasan tidak sanggup untuk merekam rumus demi rumus yang dia berikan. Aku hanya melongo mendengar ceramah termodinamikanya si jenius fisika yang satu itu.

“Ya Allah Disa, apa itu yang kau jelaskan? Tidak mengertika”, jawab Nayla polos.

“Yah, saya sih tidak tau yah pastinya, silahkan tanyakan pada Fika. Saya sih Cuma liat jawabannya Fika karena tidak mengerti”, sangkal Ana

Andisa lalu berbalik ke arahku.

“Apa yang diharapkan anak ini dariku?”, batinku.

“Tapi, pak Bakri kasi benar, tapi tidak setujuka Fira”, kata Disa lembut.

“Ckckck, Ini orang.... pak Bakri dia lawan”, kataku sambil berbalik ke arah Ana dan Nayla.

“Bukan begitu Firaaaaa, kita itu harusnya mencari KEBENARAN BUKAN PEMBENARAN”, jawabnya singat, ketus, dan setengah teriak.

Dia memang agak sensitif kalau sudah berhubungan dengan belahan jiwanya itu. Fisika (FIkiran SIap KAcau). Setelah itu dia kembali mengerjakan soal-soal itu dan mungkin juga soal-soal fisika yang lain.
Tetapi, kata-kata terakhirnya itu menghentikan aktivitasku dan membuatku meresapi kata-katanya dengan seksama. Kata-kata itu masuk tepat ke dasar hatiku. Dan kuulang-ulangi berkali-kali sampai aku benar-benar mengerti maknanya. Kebenaran bukan pembenaran. Bukan sekedar pembenaran.

Kadangkala kita begitu menutup mata dengan kebenaran. Apalagi jika tidak sesuai dengan pendapat atau keinginan kita. Kita terus menerus mencari pembenaran-pembenaran yang tidak semestinya untuk mempertahankan yang tidak seharusnya. Itu mungkin terjadi karena keegoisan hati kita untuk tidak mengakui bahwa kita memang salah. Di sinilah semestinya kita belajar tentang kelapangan hati untuk menerima apa yang mungkin sesungguhnya selama ini hanya belum kita mengerti. Di sinilah kita belajar tentang kebesaran jiwa untuk mengakui bahwa selama ini kita salah. Kebenaran, sakit atau tidak, bagaimanapun rupa dan rasanya tetaplah sebuah kebenaran. Tidak seharusnya kita berusaha mencari-cari pembenaran yang tidak sesuai dengan kebenaran itu hanya untuk kepuasan hati kita untuk sesuatu yang salah. Sepedih apapun itu.

Ya, Disa benar yang kita cari harusnya kebenaran bukan sekedar pembenaran.

Kita mencari kebenaran
Bukan sekedar pembenaran
Meski kebenaran itu
Sakit..

-Andisa Fadhila-
23 Mei 12
Koridor XI Ipa 3

6 comments:

  1. Kisah rumus fisika yak =D kebenaran itu mutlak, pembenaran itu akal-akalan..

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. kebenaran yang bukan sekedar pembenaran..

      Delete