Sunday, March 4, 2012

Gejolak


Si Aku terbenam di sudut mimpi. Rinai hujan yang terdengar merdu, membuatku masih terjaga bersama irama detakan jam. Raga yang terdiam tak bergerak. Menatap kosong kamar yang sunyi. Memaksa asa untuk bertahan. Masihkah bisa? Udara dingin yang menusuk, dapatkah membekukan waktu?

Segala tanya yang tak terjawab, membiarkan segala rasa yang membara itu menguap di tengah luka. Saat duri tajam masih mencoba menembus hati yang rapuh, air mata itu sudah jatuh. Si Aku malah tersenyum manis. Sekali lagi menyembunyikan segala pahit. Pentingkah untuk diumbar? Si Aku masih dengan bodohnya mengira rasa masih tak terlihat dibalik kata sesederhana itu. Padahal bukankah gejolak kecil tetap tampak di tengah air yang tenang? Tapi, siapakah yang begitu rajinnya memperhatikan genangan air kecil di tepi jalan rusak? Si Aku menatap langit malam, mencari bintang. Bernapas.. Tersenyum.. Menangis.. Tertawa..

2012-03-05
Pukul 00:00

5 comments: