Wednesday, January 25, 2012

Untitled 2


Aku tahu itu kamu
Tapi wajah itu tak seperti ku kenali
Ada apa?
Haruskah ku bertanya langsung padamu
Kau terlihat aneh
Lagi..
Apa ada luka di sana?
Di hatimu yang terlalu bersih
Bisakah aku mengubah raut wajah itu?
Aku ingin melihatnya beseri-seri lagi
Seperti sebelumnya
Seperti di masa lalu
Saat kau masih dengan riangnya selalu tersenyum ke arahku
Aku harap sebelum hari ini berahir
Aku masih memilikimu sekali lagi

Jawaban Perahu Kertas

Menulis?
Tiba-tiba aku kembali kedalam suatu masa yang pernah kulalui sebelumnya. Rasa jenuh. Aku kehilangan semangat menulis. Beberapa kali aku mencoba untuk menuangkan isi pikiranku kedalam lembaran-lembaran kertas putih itu. tapi pikiranku kosong. Aku terdiam berhari-hari dalam kegamangan. Aku tak menemukan gairah menulisku yang dulu. Aku bahkan tidak mengerti bagaimana dulu aku bisa menuliskan begitu banyak kisah yang kudengar dan kulalui. Jari-jemariku tak selincah dulu. Bahkan tak bergerak saat aku mulai berhadapan dengan layar putihku.
Pergi Kemana Semua Inspirasiku?
Satu kalimat itu terus berputar-putar dalam otakku berhari-hari bahkan bermingu-minggu.
Hari-hari yang penuh kekosongan jiwa itu kulalui begitu saja. seingatku, saat-saat seperti itu adalah hal terbaikku untukku menulis dahulu. Tapi, semua cerita yang kulalui berlalu begitu saja tanpa apa-apa. Aku ingin menuliskannya tapi jari-jemariku tak bergeming. Kaku.  Semuanya hanya tersisa menjadi kenangan-kenangan yang rapi tersusun dalam otakku. Tak mampu tertuang semudah dahulu. Dan aku masih tak mengerti mengapa.
Sampai pada hari yang tak kurencanakan namun selalu kuimpikan. Aku bertemu dengannya. Putri cahaya memanggilnya burung pipit, padle pop, atau apalah. Tapi, aku dengan setia masih lebih memilih memanggilnya bianglalaku. Sebuah pelukan hangat cukup menghilangkan rasa dinginku oleh hujan yang turun kala itu. hari itu kulalui dengan suka cita. Meski dengan sedikit pertengkaran dan perdebatan yang tak perlu antara aku dan sang putri andai aku mau menurut sedikit saja. dengan sedikit sesi ngambek sang putri. Barbie, maukah kau memaafkanku lagi untuk kebodohanku yang lagi-lagi ada? Tapi sayang,  sebelum benar-benar bisa melepas rindu dengan si bianglala dia harus melakasanakan tujuan sesungguhnya dia datang. Pertanyaan ini itunya pada kami kujawab dengan seadanya. Aku lebih suka menatap wajah yang kurindukan itu lama-lama.
Di sela-sela kesibukan hari itu, aku mendapatkan kesempatan emas yaitu bercerita padanya tentang kekosongan hatiku. Aku bahkan menyatakan padanya bahwa aku tak bisa lagi menulis dan mungkin ingin berhenti. Tapi, dia berhasil membangkitkan gairah menulisku yang rasanya telah lama hilang. Hari itu kami lalui dengan bercerita tentang pelangi, putri cahaya, awan putih, harber, flp, blog, bloof, dunia menulis, tulisannya, masa lalunya, dll. Entah energi apa yang merasuk ke dalam hatiku.
Di dalam kamarku yang hening. Aku menyalakan laptopku dan membuka dokumen baru. Mengingat satu hari yang kulalui bersama bianglala. Mengetikkan 2 kata: plat nomor. Setelah itu tak ada lagi. aku tak tahu harus melanjutkannya dengan kata apa.
Ku duduk dalam diam. Mengenang. Bianglala. Putri cahaya. Awan putih. Semuanya. Masa lalu. Dan Pelangi... Dia sedang sakit. Itu yang mereka bilang. Kembali mengingat hari yang menghebohkan di hari selasa di masjid. Tertawa. Hari terakhir aku melihatnya sampai bertemu bianglala. Tiba-tiba aku mengirimkan sebuah pesan singkat padanya.
Kembali mengambil laptop, mengetikkan 1 kata:mencarimu. Malam itu aku mencoba merangkai kata kembali dengan tersenyum di 2 dokumen baruku. Pelangi-pelangi itu menjelma menjadi inspirasiku di malam itu. Tanpa henti jari-jemariku mengetikkan kata per kata. Gairah itu merasuk kembali. Meski, entah mengapa aku berpikir mungkin takkkan lama.
Hari minggu aku ke toko buku bersama kakak-kakakku. Untuk pertama kalinya aku tak begitu bersemangat menelusuri rak-rak buku di sana. Aku menatap kosong judul demi judul yang terpampang jelas di sana. Cukup menarik tapi aku seperti tak tertarik. Tapi, aku kemudian berpikir mungkin dengan memilih satu novel dan membacanya seluruh gairah menulisku akan kembal lagi. ya, seperti setahun lalu saat aku kembali menulis setelah sekian lama berhenti. setelah aku melihat tulisan-tulisan seseorang yang kukenal. Aku seperti kembali ingin menulis. Meski aku tahu aku tidak begitu berbakat dalam bidang ini. Aku lalu berjalan dan mencari.
Sudah 2 novel yang ada di tanganku dan aku hanya boleh memilih satu. Kenapa aku tak memilih keduanya? Hem, karena kakakku yang membayarnya.
Aku memilih yang ada di tangan kananku waktu itu.
Perahu Kertas.
Kakakku bahkan masih sempat bertanya apa aku yakin dengan pilihanku? Entah sejak kapan perkara memilih novel menjadi begitu menegangkan. Dengan ragu aku meletakkan novel di tangan kiriku.
Aku terdiam lama, saat itu aku masih bisa menukar novel itu. tapi, lagi-lagi entah mengapa ada perasaan yang tak dapat kujelaskan setiap melihat novel perahu kertasnya “dee”. Untuk pertama kalinya aku seperti dapat menemukan jawaban di dalam novel ini. Mungkin..
“Akan ada satu saat kamu akan bertanya: pergi kemana semua inspirasiku? Tiba-tiba aku merasa ditinggal pergi. Hanya bisa diam tidak lagi berkarya. Kering. Tapi, tidak selalu itu berarti kamu harus mencari objek atau sumber inspirasi baru. Sama seperti jodoh, Nan. Kalau punya masalah, tidak berarti harus cari pacar baru, kan? Tapi, rasa cinta kamu yang harus diperbaharui. Cinta bisa tumbuh sendiri, tapi, bukan jaminan langgeng selamanya, apalagi kalau tidak diperlihara. Mengerti kamu?”
Dewi~Dee~Lestari
_perahu kertas, halaman 230_

Saturday, January 21, 2012

Mencarimu Mencarimu dan Mencarimu


Aku ada disini dan mencarimu
Kakiku melangkah pelan
Perasaanku tak enak
Aku merasa kau memang tak ada
Semakin aku mencari
Aku semakin tak bisa menemukanmu
Sejenak aku berhenti
Menghela napas,
Sisa gerimis tadi masih ada
Menatap langit,
Gerimis turun lagi
Bersama dengan itu
Daun jatuh berguguran di terbangkan angin
Memang terlihat indah
Tapi untuk kali ini
Aku merasa sakit

Nomor Plat Motor?


Setelah hujan reda
Aku ingat tentang masa itu
Kau yang kukenali karena membuatku marah
Rasanya ingin terus tertawa ketika mengingatnya
Pertama kali aku sadar bahwa kau ada
Saat itu juga kau membuatku dendam padamu
Lapangan basket sekolah itulah saksinya
Tapi buatku itu memang salahmu
Tapi, aku tak mengerti
Mengapa aku ingin mengabadikan kenangan tentangmu dengan nomor plat itu?