Saturday, December 24, 2011

YAPTI



Hari kamis tanggal 28 april, pulang sekolah kk aqilah dan kk nurul menjemputku setelah kk nurul UN smp. Oh ia aku lupa bilang kk nurul juga penderita tunananetra. Seandainya kk nurul tidak terkena tumor otak yang menyebabkan kebutaannya dan bersekolah tetap seperti orang normal, tahun ini seharusnya kk nurul mengikuti UN sma bukan smp.
Kami lalu pergi ke yapti (yayasan pembinaan tunanetra indonesia), sebuah yayasan yang menyekolahkan orang-orang seperti kk nurul. Letaknya tidak jauh dari sekolahku, jadi kami hanya berjalan kaki ke sana. Di yapti aku mengamati orang-orang tunanetra sambil terkagum-kagum. Mereka orang-orang yang hebat, sangat hebat malah. Aku tahu aku akan merindukan tempat ini. Dan aku benar.
Di yapti aku mengabadikan banyak gambar, mulai dari suasana tempat itu, orang-orang yang tinggal di sana dan lainnya. Aku memotret setiap kejadian-kejadian di sana. Aku ingin mengenangnya. Di sana orang-orang tunanetra bersikap layaknya orang normal meski tetap ada perbedaan. Mereka berjalan tanpa bantuan siapa-siapa tanpa bantuan apa-apa. Yang membuatku benar-benar sangat kagum adalah saat adzan mulai dikumandangkan. Seorang anak yang masih sangat muda dan juga buta mengumandangkan adzan dengan mantap di musholah yapti. Aku memotretnya dengan tersenyum. Di saat aku masih memotretnya, kudengar suara-suara langkah kaki dan aku berbalik. Suara-suara itu berasal dari pijakan kaki orang-orang tunanetra lainnya yang berjalan cepat seperti ingin berlari dan terlihat begitu terburu-buru. Saat aku melihat tempat yang mereka tuju, aku tertegun. Mereka menuju tempat wudhu. Kalau aku? Mungkin eh pasti jika aku mendengar adzan aku tak seperti mereka yang begitu mendengar panggilanNya untuk melaksanakan shalat langsung memenuhinya tapi malah terkadang bahkan lebih sering mengabaikannya. 
Adzan
Bagaimana denganmu teman? Apakah saat adzan mulai berkumandang kalian sama seperti mereka? Ataukah kalian masih asik tertawa, bercanda, bermain, atau malah bergosip dan mengabaikan panggilanNya? Atau masih sibuk dengan headphone ditelinga menikmati iringan musik yang melenakan? Atau masih terpaku memainkan game yang menyenangkan? Masih sibuk bermain basket? Bermain bola? Seperti yang sering kulihat. Seperti yang sering kulakukan.  Atau masih sibuk dengan soal-soal yang masih belum terpecahkan? Masih sibuk latihan ini dan itu? Kenapa? Besok lomba ?masih lusa? Minggu depan? Tidak ada waktu untuk santai dan harus latihan? Biar persiapan buat lombanya mantap? Lalu matinya kapan? Gak tahu? Persiapan buat mati udah mantap? Atau masih sibuk smsan? telpon-telponan ? Atau malah sedang asik pacaran? Seperti itukah?
Yah seperti itukah kalian? Salah maksudku seperti itukah kita? Yah seperti itulah kita. Itu yang kupikirkan saat melihat mereka.
Tempat ini sederhana tidak mewah tidak megah tapi tenang dan nyaman.
Saat menunggu mereka-kk aqilah, kk nurul dan yang lainnya- shalat berjamaah, kebetulan saat itu aku tidak shalat, aku melihat-lihat foto hasil jepretanku di sana. Foto-foto yang mengabadikan saat orang di sana tersenyum ke arahku tanpa melihatku (setidaknya mereka menyadari kehadiranku), saat-saat mereka menuju ke tempat wudhu, saat anak itu mengumandangkan adzan, di tempat wuduh, suasana shalat, dan lainnya. 
Selesai shalat, kami –aku, kk aqilah, kk nurul- menuju bangunan sebelahnya. Masih yapti, tapi di sana aku menemukan banyak anak kecil yang tidak ketemukan di tempat tadi lalu spontan memotret mereka juga. Mereka sedang bermain, tertawa dan terlihat bahagia. Masa kecil memang harus benar-benar dinikmati. Di sana juga ada ayunan, prosotan dan aku berpikir sepertinya tempat ini memang untuk anak kecil. Di sana juga ada sebuah kapal yang tidak terlalu besar tapi tidak terlalu kecil. Aku lalu menghilang dari hadapan kk nurul dan kk aqilah dan berlari ke kapal itu. Di kapal itu ada beberapa anak yang sedang bermain. Entah bermain apa. Aku lalu menginvestigasi mereka. Maksudku hanya sedikit bertanya pada mereka. Kata mereka kapal itu masih bagus, tidak rusak, bisa digunakan. Bisa digunakan? Tapi kapal itu berada di darat. mereka bilang saat banjir anak-anak di naikkan ke sini. Benarkah? Aku tak tahu. Tapi itulah yang mereka katakan. Setidaknya daripada aku bertanya pada ikan yang ada di suatu tempat di atas kapal itu yang kulihat saat aku memanjat naik ke atasnya lebih baik aku bertanya pada anak-anak itu. Sebelum aku pergi aku tersenyum pada anak-anak yang lucu-lucu itu dan berterima kasih atas infonya. Mereka juga sangat sopan.
Sebelum kami pulang dari yapti kami makan dulu. Sebenarnya aku malas, tapi seperti biasa kk aqilah memaksaku makan. Jadi, aku juga ikut makan. Kami makan bakso mas sabar kalau tidak salah. Katanya kk nurul, dia biasanya kalau lapar makan baksonya mas sabar. Sementara kk aqilah memesan bakso untukku, aku menghilang lagi. Tidak benar-benar hilang sih tapi karena aku adalah aku, seperti biasa aku menjelajah tidak jelas lagi. Aku melihat beberapa lelaki dewasa yang sedang memindahkan begitu banyak karung dari atas truk ke dalam sebuah rumah yang saat itu aku tidak tahu apa isinya. Dan spontan aku mendatangi mereka lalu bertanya pada mereka apa isinya. Aku lupa jawabannya. Dan aku bertanya bertanya dan bertanya lagi. Aku lupa semua jawaban mereka karena aku sendiri lupa apa yang kutanyakan. Yang kuingat hanyalah keringat yang mengalir deras di kening, wajah bahkan tubuh mereka. Itulah kehidupan kawan.
Setelah itu aku kembali ke kk aqilah dan kk nurul. Tiba-tiba hujan turun pas sekali dengan semangkuk bakso panas yang dipesan kk aqilah untukku. Sementara makan, aku bertanya pada mas sabar : mas bukan asli sini yah? Dia lalu menceritakan sedikit tentang dirinya. Dia bilang dia asli jawa terus pindah ke sini tahun... hmm aku lupa tahun berapa.
Aku lalu bertanya lagi: pindah kenapa, mas?
Dia hanya menjawab : karena kemiskinan.
Lihatlah kawan, itulah potret kehidupan. Demi melanjutkan kehidupan mas sabar harus pergi meninggalkan rumahnya bahkan teman-temannya. Sama seperti orang-orang yang mengangkut karung-karung yang entah apa isinya itu. Mereka melakukannya demi melanjutkan kehidupan. Mungkin bukan cuma kehidupannya tapi juga kehidupan orang-orang yang mereka sayangi. Alaaaah. Lagi pula aku tahu apa tentang kehidupan? Aku hanya anak sma biasa yang masih mengharapkan uang jajan dari orang tua.
Setelah makan, kami pulang ke masjid nurul iman 2. Tempatku satu-satunya saat aku ingin lari dari segala kepenatanku. Saat kami tiba di masjid, aku langsung bertemu dengan maminya irmani2 (ikatan remaja masjid nurul iman 2) tersayang, ust sair alias pak imam, dan anak-anak santri yang sedang belajar ngaji, tapi ada juga sih anak santri yang lari-lari gak jelas. Mungkin di masa depan mereka bercita-cita menjadi seorang pelari profesional yang mendapatkan begitu banyak medali emas dan juga beriman serta jago ngaji. Tapi sudahlah, itulah anak-anak. Setidaknya meskipun aku tidak selalu bertemu dengan saudara saudariku saat aku di sana, aku bisa mengenang mereka di tempat di mana kenangan bersama mereka ada dan berawal.

1 comment: