Saturday, November 12, 2011

Kucingku yang manis, selamat jalan...

Hem, buat bener-bener berenti nulis itu emang susah yah..
Apalagi kalau di saat-saat tersedih seperti ini

-12 November 2011-
Lagi-lagi harus kusampaikan terima kasihku pada hujan yang seakan kembali mengerti hatiku.
Hari yang cerah di sore hari yang teduh hujan turun perlahan. Aku membiarkannya membasahi tubuhku (lagi). Beserta hatiku.
Kali ini izinkan aku bercerita, aku tidak tahu harus meneriakkan kesedihanku kali ini pada siapa. Aku tidak tahu.
Rintik hujan masih turun perlahan, aku tiba di rumah dengan hati yang lelah. Ada yang hilang dariku belakangan ini. Aku percaya, nantipun pasti kan terbiasa. Biarlah dulu tetap begini. Aku bertemu dengan seekor anak kucingku yang paling lucu di depan rumah. Aku tidak begitu mengerti kenapa, tapi dia terlihat begitu berbeda. Terlihat begitu sendu. Sungguh tak seperti biasanya. Aku tak melihat dirinya yang biasanya bersemangat. Sebelum aku menyapanya, dia mengadahkan kepalanya ke atas dan melihat mataku lalu seakan mengatakan sesuatu padaku. suaranya terdengar begitu parau. Sungguh tak seperti biasanya. Aku bertanya padanya ada apa. Dia menjawab, tapi aku tak mengerti bahasa kucing. Aku hanya melihat matanya yang tak biasanya basah. Seperti menangis. Aku tidak mengerti. Aku lalu memalingkan wajahku ke arah lain. Bingung, baru kali itu aku melihatnya sendiri. Tidak bersama ke dua saudara kembarnya. Meskipun mereka bertiga kembar, aku tetap bisa membedakannya. Lagi-lagi kutanyakan padanya di mana kedua saudaranya, tapi dia masih menjawab dengan suara parau yang lebih panjang dan tatapan yang menyedihkan. Apakah dia mengerti bahasaku? Entahlah..
Aku masuk ke rumah dan meninggalkannya. Di dalam rumah, aku baru tahu jawabannya. Ternyata, salah 1 saudara kucingku yang tadi baru saja mati tertabrak mobil. Aku terdiam sejenak tak percaya. Meski beberapa tahun ini aku tidak begitu peduli pada mereka (tapi ke3 ekor anak kucingku baru lahir tahun ini, mereka yang kumaksudkan adalah kucing2ku yang lain + ke 3 anak kucing itu), aku tetap seorang penyayang binatang (apalagi manusia). Hatiku sangat sangat sangat sedih. Apalagi mereka itu lucu-lucu dan selalu bertiga kemana-mana.
Setelah meletakkan tasku, aku dan kakakku pergi menguburkannya di suatu tempat. Di tempat itu pernah di kuburkan kucingku yang juga tertabrak mobil dan sesekor anjing piaraan tetanggaku yang mati.
Aku dan kakakku berjalan ke sana di temani rintik hujan. Apakah langitpun sedang menangis? Aku berjalan dengan hati yang tak terdefinisikan. Biasanya, sejak aku kecil jika ada kucingku yang mati atau kucing liar sekalipun aku akan menangis. Entah mengapa aku akan merasa sangat sedih. Kali ini aku ingin mengantarkan kepergiannya dengan ke-sok-tegar-an, meski tetap hatiku menangis. Kakakku menggali tanah yang basah dengan sepenuh hati (ya ialah kan hujan). Mungkin, diapun sangat sedih. Tapi, dia laki-laki jadi tak mungkin menunjukkannya di hadapanku. Aku berkali-kali menghela napas panjang dan memandang langit yang masih saja menitikkan rintik hujan di sore yang begitu cerah tapi teduh. Meski sudah tak terhitung banyak kejadian yang sama seperti hari ini kualami, tapi rasa sedih itu tetap tak berkurang. Kucingku mati adalah saat-saat tersedih di dalam hidupku. Saat-saat yang masih saja selalu terulang.
Aku saja sangat sedih apalagi saudara dan induk kucing itu. Tidak percaya? Tak apa. Mungkin, jika melihat induknya yang terus menjilati darah anaknya sebelum mati dan kedua saudaranya yang menemaninya, mengelilinginya, menjilatinya, dan bebicara padanya baru hati ini akan percaya dan mengerti. Betapa sedinya. Meski mereka sering sekali kulihat berebut makanan, tapi di saat terakhir kehidupannya, mereka tak saling meninggalkan. Oh ia induk ke3 kucing itu adalah salah satu dari kucing pertamaku yang masih hidup. Pertama kali aku punya kucing kalau tidak salah saat aku masih TK atau sebelumnya yah? entahlah yang jelas sudah lama sekali. Jangan tanya aku soal umurnya. Akupun tidak tahu, karena aku memilikinya saat dia sudah agak besar.  



0 comments:

Post a Comment