Monday, November 21, 2011

Nyesek adalah..

nyesek adalah..
saat kau yang kurindukan berjalan pergi menjauh dariku tanpa berbalik ke arahku yang terus menatapmu yang bahkan mungkin tak menyadari kehadiranku sedikitpun.

21 November 2011
02:05 PM
depan lab biologi
saat kau mengatakan ingin pergi
nyesek adalah..
saat aku mengucapkan selamat tinggal padamu yang membuatku tersenyum

nyesek adalah..
saat aku berada dekat denganmu namun terasa jauh

nyesek adalah..
saat aku ingin mengatakan sesuatu padamu tapi tak mampu

nyesek adalah..
saat aku hanya membutuhkanmu tapi aku tahu kau tak akan datang

nyesek adalah..
saat hujan berhenti tapi tak ada pelangi

Sunday, November 13, 2011

Virus Main Game

Saya mewabahkan virus bermain game (terutama harvest moon) di kelas saya. Saya sering sekali bermain game pada saat jam pelajaran sedang berlangsung, apalagi saat-saat pelajaran itu terlihat membosankan. Awalnya, teman-teman saya hanya melihat saya sambil tetawa dan geleng-geleng kepala.
Suatu hari, tepat di saat pelajaran terasa sangat membosankan, saya menyalakan laptop saya. Saya lalu membuka folder game saya dan bermain harvest moon. Entah kenapa tiba-tiba saya bermain harvest moon lagi setelah sekian lama. Mungkin, karena saya sudah bosan memainkan game lain. Lalu teman-teman saya memperhatikan saya dan kemudian berkata “mwka juga main”. Mereka pun lalu menyalakan laptop mereka masing-masing dan main.
Hari-hari berikutnya, kami lalui dengan permainan harvest moon, tiap pelajaran kosong atau pelajaran membosankan. Tiap haripun, jika ada yang tidak kami mengerti tentang permainan ini, kami saling menanyai satu sama lain. Kami pun bermain dengan tipe yang berbeda-beda. Ada oma yang selalu pakai cheat. Ulfa yang sekarang harus kerja keras buat dapat uang karena cheatnya entah kenapa tak bisa dipakai lagi. Sampai Wildy yang mengajari kami cara dapat uang banyak di momen-momen tertentu permainan harvest moon.
Sekarang, jika ada kesalahan-kesalahan bodoh yang kami lakukan masing-masing ketika main game. Seperti, tanpa sengaja membuang begitu saja hasil harvest. Kami akan saling menertawakan dan saling mengejek.

Saturday, November 12, 2011

Kucingku yang manis, selamat jalan...

Hem, buat bener-bener berenti nulis itu emang susah yah..
Apalagi kalau di saat-saat tersedih seperti ini

-12 November 2011-
Lagi-lagi harus kusampaikan terima kasihku pada hujan yang seakan kembali mengerti hatiku.
Hari yang cerah di sore hari yang teduh hujan turun perlahan. Aku membiarkannya membasahi tubuhku (lagi). Beserta hatiku.
Kali ini izinkan aku bercerita, aku tidak tahu harus meneriakkan kesedihanku kali ini pada siapa. Aku tidak tahu.
Rintik hujan masih turun perlahan, aku tiba di rumah dengan hati yang lelah. Ada yang hilang dariku belakangan ini. Aku percaya, nantipun pasti kan terbiasa. Biarlah dulu tetap begini. Aku bertemu dengan seekor anak kucingku yang paling lucu di depan rumah. Aku tidak begitu mengerti kenapa, tapi dia terlihat begitu berbeda. Terlihat begitu sendu. Sungguh tak seperti biasanya. Aku tak melihat dirinya yang biasanya bersemangat. Sebelum aku menyapanya, dia mengadahkan kepalanya ke atas dan melihat mataku lalu seakan mengatakan sesuatu padaku. suaranya terdengar begitu parau. Sungguh tak seperti biasanya. Aku bertanya padanya ada apa. Dia menjawab, tapi aku tak mengerti bahasa kucing. Aku hanya melihat matanya yang tak biasanya basah. Seperti menangis. Aku tidak mengerti. Aku lalu memalingkan wajahku ke arah lain. Bingung, baru kali itu aku melihatnya sendiri. Tidak bersama ke dua saudara kembarnya. Meskipun mereka bertiga kembar, aku tetap bisa membedakannya. Lagi-lagi kutanyakan padanya di mana kedua saudaranya, tapi dia masih menjawab dengan suara parau yang lebih panjang dan tatapan yang menyedihkan. Apakah dia mengerti bahasaku? Entahlah..
Aku masuk ke rumah dan meninggalkannya. Di dalam rumah, aku baru tahu jawabannya. Ternyata, salah 1 saudara kucingku yang tadi baru saja mati tertabrak mobil. Aku terdiam sejenak tak percaya. Meski beberapa tahun ini aku tidak begitu peduli pada mereka (tapi ke3 ekor anak kucingku baru lahir tahun ini, mereka yang kumaksudkan adalah kucing2ku yang lain + ke 3 anak kucing itu), aku tetap seorang penyayang binatang (apalagi manusia). Hatiku sangat sangat sangat sedih. Apalagi mereka itu lucu-lucu dan selalu bertiga kemana-mana.
Setelah meletakkan tasku, aku dan kakakku pergi menguburkannya di suatu tempat. Di tempat itu pernah di kuburkan kucingku yang juga tertabrak mobil dan sesekor anjing piaraan tetanggaku yang mati.
Aku dan kakakku berjalan ke sana di temani rintik hujan. Apakah langitpun sedang menangis? Aku berjalan dengan hati yang tak terdefinisikan. Biasanya, sejak aku kecil jika ada kucingku yang mati atau kucing liar sekalipun aku akan menangis. Entah mengapa aku akan merasa sangat sedih. Kali ini aku ingin mengantarkan kepergiannya dengan ke-sok-tegar-an, meski tetap hatiku menangis. Kakakku menggali tanah yang basah dengan sepenuh hati (ya ialah kan hujan). Mungkin, diapun sangat sedih. Tapi, dia laki-laki jadi tak mungkin menunjukkannya di hadapanku. Aku berkali-kali menghela napas panjang dan memandang langit yang masih saja menitikkan rintik hujan di sore yang begitu cerah tapi teduh. Meski sudah tak terhitung banyak kejadian yang sama seperti hari ini kualami, tapi rasa sedih itu tetap tak berkurang. Kucingku mati adalah saat-saat tersedih di dalam hidupku. Saat-saat yang masih saja selalu terulang.
Aku saja sangat sedih apalagi saudara dan induk kucing itu. Tidak percaya? Tak apa. Mungkin, jika melihat induknya yang terus menjilati darah anaknya sebelum mati dan kedua saudaranya yang menemaninya, mengelilinginya, menjilatinya, dan bebicara padanya baru hati ini akan percaya dan mengerti. Betapa sedinya. Meski mereka sering sekali kulihat berebut makanan, tapi di saat terakhir kehidupannya, mereka tak saling meninggalkan. Oh ia induk ke3 kucing itu adalah salah satu dari kucing pertamaku yang masih hidup. Pertama kali aku punya kucing kalau tidak salah saat aku masih TK atau sebelumnya yah? entahlah yang jelas sudah lama sekali. Jangan tanya aku soal umurnya. Akupun tidak tahu, karena aku memilikinya saat dia sudah agak besar.  



Friday, November 4, 2011

Ini Tentang Jalan Kita

Jika kau memang harus pergi tak masalah, kami akan tetap menantimu disini. Jika kau tak bisa kembali tak masalah, maka kami akan mencarimu kemanapun kau pergi. Kita semua percaya bahwa suatu saat nanti jika telah benar-benar berpisah kita akan di pertemukan kembali olehNya dengan cara yang lebih indah. Ayo tetap berjuang bersama, meski tetap harus dengan cara yang berbeda.

Seperti inilah jalan cerita kita..
Angin lembut dan awan putihku, kalian setuju kan?

~cerita yang tersisa dan masih trsembunyi di balik langit~


Thursday, November 3, 2011

VMJ Lagi? Awawaw..


Selasa, 01 November 2011 pukul 07:05 AM
Aku duduk di koridor T, melihat langit yang dipenuhi oleh awan putih. Hari ini cuaca cerah, tidak mendung. Tapi, entah bagaimana dengan hatiku. Aku menarik napas panjang, berharap semua berlalu lebih cepat . Kali ini, aku mencoba berhenti sejenak. Berhenti berlari. Menepi. Aku lelah. aku hanya ingin bernapas sejenak dengan lebih pelan dan lebih panjang. Semua hal terlalu sulit untuk dapat kumengerti. Tidak semua pertanyaan itu mempunyai jawaban. Tidak semua kejujuran dapat kudapatkan.
Seorang teman datang menghampiriku. Bercerita tentang kegelisahan hatinya. Aku tersenyum. Aku mendengarkannya dengan seksama. Mencoba mengerti. Ini membuat perasaanku jauh lebih baik. Ah, lagi-lagi tentang cinta. Virus merah jambu itu menyerang satu hati lagi yang kukenal. Aku tak tahu siapa laki-laki itu. Tapi siapapun dia, dia telah berhasil memikat hati sahabatku ini.
Katanya laki-laki itu seseorang yang sederhana, unik, dan kekanak-kanakkan. Kadangkala, ini bisa menjadi sumber kegalauan utama dari hati seorang akhwat sepertinya. Ups, hahahaha. Aku bukanlah seorang penasihat yang baik, aku tak begitu bisa memberikan saran yang baik untuknya. Maafkan aku sobat. Jika sudah seperti ini, kadangkala aku akan meminta saran cahayaku. Tapi, aku tak ingin dia bertanya siapa yang kumaksud. Aku ingin biarlah sahabatku itu sendiri yang bercerita padanya. Karena biasanya dia bercerita tentang kegelisahan hatinya pada cahayaku. Oh ia dia bukan awan putih loh, apalagi angin lembut.

Aku sangat sensitif terhadap hal yang berbau cinta. Bagiku, cinta itu adalah musibah. Namun, entah mengapa aku masih saja terjebak dalam lingkaran setan percintaan. Apalagi...... aku sekarang sudah ingin menutup diri. Aku sudah tak ingin mencinta lagi.. tapi.. aku bingung bagaimana caranya!
“Aku tak mengerti cinta itu apa? Tapi.. aku bingung bagaimana caraku mengendalikannya. Akuuu... aku tak kuat lagii menghadapi musibah cinta ini.. apa yg harus aku lakukan ukhtiii??”
-suara hati sahabatku itu-

Ingin Hilang Ingatan


Rasanya, aku ingin hilang ingatan saja. sebuah cara tercepat untuk kehilangan semua rasa sakit hati. Ingin menghapus semua kenangan, beserta semua penyesalan yang masih tersisa. Menghapus semua cinta yang terjaga terlalu baik. Menghapus kerinduan yang tak pernah pudar. Tak perlu mengingat apapun. Baik tawa, senyuman, bahkan air mata. Tak perlu. Karena semua kenangan itu abadi di dalam luka yang tak pernah sembuh. Di saat semuanya terlupakan. Maka, takkan ada rasa sakit lagi.

aku lelah.
aku sudah terlalu lelah.
aku hanya ingin hilang ingatan.