Friday, October 28, 2011

Tuhan, bersediakah Engkau menghilangkan rasa sakitnya untukku?


27 okt 11
Di koridor T
Aku duduk bersamanya, bercerita yang entah tentang apa. Aku tak ingat lagi. kenanganku di hari itu hanya dipenuhi oleh rasa sakitnya. Melihat langit, memperhatikan awan. Berfilosofi aneh lagi.
Tiba-tiba, dia terdiam dan..
-Tuhan, kenapa sakit itu harus kau berikan padanya? Kenapa harus menyapa di saat aku bersamanya? Kenapa sampai harus membuatnya menangis dihadapanku?-
-Tuhan, kala itu aku bingung. Sangat bingung harus melakukan apa? Bingung memikirkan cara mengehentikan rasa sakitnya-
-Tuhan, kenapa harus kau tunjukkan padaku ketidakmampuanku melakukan sesuatu untuknya. Bahkan,meski hanya untuk mengurangi rasa sakitnya aku tidak mampu-
Beberapa orang mendekat dan mencoba membantuku.
-Tuhan, ini terlihat begitu menakutkan. Aku takut. Aku takut-
......................
Sesaat sebelum pulang.
Kk Ai: Fira.. wanna see?
Aku mendekat ke arahnya. Dia seperti mencari sesuatu di laptopnya.
Aku: Ha? Apa?
Aku menunggu dan sedikit penasaran.
Kk Ai: Look!
Aku mencoba memperhatikan dengan seksama. Perlahan aku mencari apa yang dia katakan. Pandanganku terhenti pada sebuah folder.
Memperhatikannya sekali lagi dengan lebih hati-hati. Mendekat dan memperhatikannya lagi. lalu membaca judul folder itu dengan terbata-bata.
Goresan Tinta Putih Daun Cinta
Kira-kira seperti itulah judulnya.
Aku: Apa itu? Ha?
Dia tertawa.
Aku: apa yang kau lakukan? Apa isinya?
Kk Ai: ingat waktu laptopnya saya bawa lari? (tersenyum jahil)
Aku: seenaknya meng-copas tulisanku lagi?
Kk Ai: ups,
Aku: Hapus!!
Dia menggeleng. Aku mencoba mengambil laptopnya. Namun, tak berhasil. Dia merapikan barangnya, berdiri dan beranjak pergi.
Kk Ai: ayo kita pulang (tersenyum)
Aku: silahkan duluan..
Diapun berbalik dan pergi. Aku lalu mengikutinya dan berjalan di belakangnya. Melihatnya berlari membuatku tertawa dan khawatir.
Lalu melihatnya menggunakan tiang koridor sebagai tempat bertumpu untuknya yang terlihat menahan rasa sakit. Aku lalu memanggilnya dan dia berbalik. Dengan hati yang masih khawatir mengembalikan kacamatanya yang bisa-bisanya dia lupakan.
Lalu berjalan bersamanya dan pulang.
-Tuhan, aku tidak peduli dengan misi yang diberikan padaku oleh cahaya kami. Yang kutahu, aku ingin melakukannya. Yang kutahu, aku harus melakukannya. Yang kutahu, hatiku selalu berusaha melakukannya. Tapi, aku tidak tahu bagaimana caranya. Aku sungguh tak bisa melihatnya terluka sedikitpun. Ajari aku, beritahu aku caranya. Izinjan aku untuk dapat melakukannya, Tuhan-

0 comments:

Post a Comment