Tuesday, September 13, 2011

Dari 1 menjadi 3

Sabtu siang, tanggal 10 September 2011, pulang sekolah aku berjalan pulang bersama Rezki. Lalu pada saat kami menyusuri koriodor, tepat di ruang guru kami bertemu dengan Fathima, Rahmah dan anak-anak bonsai yang sedang berdiskusi dengan pak Afrizal entah tentang apa. Setelah mereka selesai, Rahmah meminta tolong pada Rezki untuk mengajarinya matematika. Mereka lalau membahas soal di depan ruang guru sambil duduk di pinggir koridor dengan posisi yang nyaman menurut masing-masing. Akupun menuggu mereka dan diduk di samping Rezki. Fathima lalu datang dan duduk disampingku.
Fathima lalu mulai bercerita sendiri denganku sambil menunggu mereka. Tiba-tiba fathima melihat setangkai bunga yang berdiri sendiri di atas pot ditengah-tengah dedaunan dan berkata bahwa bunga itu hebat dan keren dapat berdiri tegak meski sendiri dan kesepian dan nada biasa yang beagiku menyimpan kepedihan. Dia berkata dengan mata yang terus menatap bunga itu yang tatapannya seakan menyimpan sejuta makna. Aku lalu bertanya padanya apakah dia kesepian? Kenapa aku bertanya seperti itu padanya? Karena pada saat dia mengatakan kesepian seakan-akan dia pun merasakannya. Kata-kata sendiri, kesepian, tanpa teman, semua dikatakannya begitu dalam seakan-akan dia tahu pedihnya makna kata-kata itu. Seakan-akan dia dapat merasakannya. Meski, dia tidak berlebihan dalam mengatakannya, bersikap biasa dengan ekpresi wajahnya yang biasa aku seperti dapat merasakan sesuatu yang berbeda dari kata-katanya. Aku lalu mengatakan padanya  meski begitu, bunga itu tetap terlihat indah dan diapun mengiyakannya.
Senin siang, 12 September 2011 istirahat shalat. Aku hendak ke perpus bersama rezki. Bukan dalam rangka burenk tapi dalam rangka mencari wifi. Dia begitu penasaran ingin membaca postingan terbaru dari cahayaku. Sebelum keluar dari area smagas, tepatnya di depan xi.ipa 1 kami bertemu dengan mba Nisa (kak Berli). Dia lalu memperlihatkanku posisi  kak Nabs yang ternyata ada di koridor T depan axel bersama kak Ams. Aku dan rezkipun langsung kesana. Ternyata, mereka berdua sedang menunggu pak Afrizal yang berada di dalam kelas anak axel. Setelah pak Afrizal keluar, kami berempat pun berjalan ke arah ruang guru. Kami bertiga pun lalu membiarkan kak Ams menyelesaikan urusannya bersama pak Afrizal di dalan ruang guru dan menunggu di luar. Rezki lalu duduk di dekat bunga yang kemarin kulihat dengan fathima. Tanpa sengaja, aku berbalik ke arah bunga itu dan melihatnya. Dalam waktu sepersekian detik, aku kaget melihat bunga itu sekaran g sudah tidak sendiri lagi. Sekarang dia sudah mempunyai dua teman yang menemaninya beridiri tegak.
Aku lalu ke masjid dan memberitahu fathima, diapun langsung kaget, menganggap aku bercanda lalu pergi memastikannya. Tapi aku tidak membual, yang kukatakan adalah benar. Diapun melihatnya.
 Aku lalu mengatkan padanya: “lihatlah, kesabarannya dalam menghadapi kesepian dan kesendiriannya. Tidak putus asa dan tetap berdiri tegak. Dan Tuhanpun membalas semua sikapnya itu dengan indah. Memberikan apa yang tidak dimilikinya sebelumnya. Yang sempat membuatnya terlihat begitu kesepian. Sesuatu yang bernama teman. Ia kan Fathima?”
Fathima: “ia, dari 1 menjadi 3, dari sendiri menjadi punya teman”
Dalam raut wajahnya terdapat rasa senang seperti yang kurasakan saat melihat bunga itu. Melihat bunga saja tidak sendirian lagi terasa begitu indah apalagi manusia.

0 comments:

Post a Comment