Friday, September 30, 2011

Tanya

For: Pelangi

Andai Aku Tak Seperti Dia Dimatamu


Andai aku tak seperti dia dimatamu..
Apakah kasih sayang itu akan tetap sama?
Andai aku tak seperti dia dimatamu..
Akankah aku mendapat tempat dihatimu?
Andai aku tak seperti dia dimatamu..
Apakah hari itu kau akan datang padaku?
Andai aku tak seperti dia dimatamu..
Akankah kau memelukku sama seperti hari itu?
Andai aku tak seperti dia dimatamu..
Apakah kau masih akan melihatku?
Andai aku tak seperti dia dimatamu..
Akankah kau  tetap memegang tanganku di hari itu?
Andai aku tak seperti dia dimatamu..
Apakah senyum indah itu masih akan kau berikan padaku?
Aku bukan dia..
Tapi aku selalu memikirkanmu..
Aku bukan dia..
Tapi aku selalu menyayangimu..
Aku bukan dia..
Tapi aku selalu merindukanmu..
Meski aku tak seperti dia dimatamu..
Kumohon, kumohon dengan sepenuh hati..
Izinkan aku mendapatkan tempat dihatimu..
Meski hanya di tepiannya saja..
Ah..
Sungguh meski aku tak seperti dia dimatamu..

Kau.. Nafasku..


Kau.. Nafasku..

Kau datang seperti hembusan angin
Yang menyegarkan hari-hariku
Sebelumnya aku tak pernah perduli pada kehadiranmu
Perlahan di tengah hampa rasaku
Kau memberiku berbagai kebahagiaan dengan indahmu
Hingga akhirnya
Kau telah menjadi nafasku

Kau..

Wahai dirimu yang telah hidup di hatiku
Aku sungguh merasa sesak tanpa hadirmu
Kau.. yang mengganggam erat tanganku
Kau.. yang menatapku lembut dengan senyummu
Kau.. yang mengajarkanku..
Sebuah pelukan itu hangat
Kau.. yang memelukku saat airmataku mengalir

Jangan pernah!
Jangan pernah sekalipun kau coba tinggalkan aku!
Sungguh..
Meski hanya memikirkannya pun, jangan pernah!
Karena aku tak akan pernah rela..

Kehilanganmu akan menjadi sesak yang tak tertahankan
Karena...
Kau.. Nafasku..

Cahaya Melengkung Warna-Warni


Bagaimanapun aku berusaha untuk berhenti
Aku tetap selalu memikirkanmu
Kau terlalu indah untuk diabaikan
Cahayamu dapat menerangi gelapnya hatiku
Meski kau tak selalu ada untukku
Ah, memang tak ada yang tak suka pada cahaya melengkung warna-warni itu

Hati yang Gelisah



Ah, hati yang gelisah..
Hembusan nafas yang terdengar jelas seolah menyayat hati
Dimanakah ketenangan jiwa itu berada?
Dapatkah di temukan di balik hening malam?
Siapakah yang dapat memahami?
Terdengar jelaskah teriakan hati?
Cukupkah di jelaskan melalui hujan yang deras?
 Dimanakah ketenangan jiwa itu berada?
Bersembunyi di balik pepohonan?                              
Ataukah jauh di atas awan?
Angin yang berhembus dapatkah menyampaikan rasa?
Ah, hati yang gelisah...
Maukah engkau menenangkannya wahai sahabat?
Bahkan hujan yang turunpun tak menyisakan pelangi
Ah, hati yang gelisah..

Tak Dapat di Jelaskan


Ada sebuah rasa sakit yang tak dapat di jelaskan
Begitu dalam bersembunyi di dasar hati
Air mata yang tak dapat terurai
Meski seringkali isakan itu terdengar lirih
Ada sebuah rasa sakit yang tak dapat di jelaskan
Yang dibiarkan bersembunyi di balik senyuman

Saturday, September 24, 2011

Cintaku Seperti Ini Padamu


Aku sangat menyayangimu
Dan kau tahu itu                                                                                                
Aku tidak akan mengatakan cintaku seluas samudra
Ataupun setinggi himalaya
Aku tidak tahu betapa besarnya cintaku padamu
Sebegitu luasnya hingga aku tak dapat melihat ujungnya
Hingga aku tak dapat menyamakannya dengan sesuatu apapun
Hingga aku tidak dapat membandingkannya dengan sesuatu apapun
Aku bukannya rela mati untukmu
Sesungguhnya akupun takut mati
Hanya saja aku tak merasa hidup tanpamu

Wednesday, September 21, 2011

Aku Lelah



Mataku menutup rapat, enggan melihat dunia nyata. Mencoba mencari keindahan dalam mimpi-mimpi kosong. Saat tersadar, masih enggan membuka mata. Memilih terdiam dan tenggelam di alam gelap. Serasa ingin mati tetapi takut juga. Tapi, kegelapan terlalu menakutkan. Tak punya pilihan lain selain membuka mata. Kembali kedalam ironi dunia yang nyata.
Ah, aku lelah..

Sunday, September 18, 2011

Aisyah.. Terima Kasih

Aisyah..
Terima kasih untuk senyuman yang kau berikan padanya.
Terima kasih karena kau telah membuatnya tersenyum dan tertawa.
Terima kasih telah membuat tetangga-tetangganya tertawa.
Terima kasih telah membawa kecerian itu.
Terima kasih untuk mangga yang kau suapkan padaku.
Terima kasih untuk makanan yang hampir kau habiskan.

hey,
ngomong-ngomong waktu aku di dapur dengannya,
apa yang kau bicarakan dengan ibunya?

Terima kasih untuk waktu yang kau luangkan.
Terima kasih untuk ke super ramahanmu di rumah itu.
Terima kasih
Terima kasih.. Terima kasih
kk ai..

~17sept2011~

Wednesday, September 14, 2011

Ribuan Kata Itu


Entah sudah berapa banyak kata yang kurangkai di sepanjang hidupku mengenalmu. Kata-kata yang kurangkai hanya untukmu. Seluruh ungkapan perasaanku padamu. Luapan kasih sayangku padamu. Beribu-ribu kata tapi aku masih belum merasa aku lebih dekat denganmu meski hanya sejengkal saja. Semakin aku berharap kau ada di sisiku kau semakin terasa jauh. Semakin aku mencarimu semakin kau menghilang dari mataku.
Sehingga membuatku terus merasakan kepedihan yang begitu dalam. Kepedihan dari mencintaimu. Siapa? Siapa yang menyangka? Setiap pujian yang terangkai indah atas ungkapan perasaanku melalui kata-kata itu, menyisakan sebuah lubang di hatiku. Aku membutuhkan sesuatu untuk menutupinya. Aku butuh sesuatu untuk kembali mebuat hatiku utuh. Aku butuh cintamu.
Tapi, tahukah kau? Berkali-kali aku mencoba menyingkirkanmu dari benakku. Berkali-kali aku mencoba untuk menghapus rasaku padamu. Berkali-kali aku mencoba untuk tak melihatmu. Tapi, aku tak pernah dan tak pernah mampu. Semakin keras aku mencoba aku semakin tersakiti. Dan itu selalu dan selalu terjadi.
Lalu? Apa yang harus kulakukan? Semua terasa salah. Dapatkah aku menyalahkan rasaku padamu?