Tuesday, August 16, 2011

Rumput Liar


Rumput liar..
Ah bagaimana aku harus memperlakukanmu?
Aku bisa saja mencabutmu seketika, tapi apa aku rela?
Aku bisa saja merawatmu dan membiarkanmu menjadi indah, tapi apakah sudah waktunya?
Jujur aku tahu belum waktunya mengizinkanmu tumbuh, dan mungkin juga aku belum rela secepat  itu mencabutmu. Karena aku ingin, aku masih ingin melihatmu indah di tamanku. Meski aku sadar aku bisa mencabutmu.
Atau aku tak usah memperdulikanmu, dan aku cukup membiarkanmu tumbuh liar di tamanku.
Jika aku tak perduli apakah kau akan tetap ada di tamanku atau malah semakin terlihat gagah dan semakin kuat menancapkan akar-akarmu?
Ah, baiklah..
Aku tahu, aku tahu..
Maafkan aku..
Aku memang selalu memimpikan,
Saat-saat dimana aku bisa duduk di atas rumput di tamanku. Menghirup udara pagi, mendengarkan kicauan burung yang bernyanyi ria, merasakan cahaya sang mentari di kala embun pagi masih belum jatuh dari helaian daun..
Saat-saat dimana aku bisa duduk di atas rumput di tamanku. Memandangi langit biru yang masih tak berpisah dari awan putih nan suci, merasakan angin lembut yang berhembus dengan tenang, di kala hujan masih menyisakan keindahan pelangi..
Saat-saat dimana aku bisa duduk di atas rumput di tamanku. Menyaksikan langit yang perlahan menjingga di kala senja mulai menyapa..
Yah, di tamanku. Di taman hatiku..
Tapi, sepertinya aku harus segera mencabutmu, mengeluarkanmu dari taman hatiku. Aku harus melakukannya secepatnya, atau mungkin sekarang, bahkan seharusnya tepat ketika aku menyadari bahwa kau telah tumbuh di taman hatiku. Sebelum kau menancapakan akar-akarmu semakin dalam. Sebelum kau semakin kuat. Agar tanganku tak perlu terluka saat mencabutmu. Agar rasa sakit itu tak membekas terlalu dalam. Terlau dalam..

1 comment:

  1. apa kau pikir karena tidak ada bekas luka, maka dia tidak terluka?!

    -_-

    luka itu nyata.

    dan aku tidak ingin melihat hal itu terjadi.

    ....pada tanah.

    ....dan juga pada rumput liar.

    ReplyDelete