Saturday, August 13, 2011

Berhentilah menangis miss fisika !


Matanya menatapku, terlihat sendu.
Tersenyum lalu cemberut dan tersenyum lagi.
Merah, matanya memerah.
Dia menggenggam tanganku.
Erat sangat erat.
Kasih sayang itu menguasaiku.
Rasa sakit itu menusuk-menusuk hatiku.
Bertahan dia berusaha menahan.
Tapi, air mata itu sudah jatuh.
Seenaknya turun membasahi pipinya.
Dia melepaskan genggamannya.
Dia melepaskan kacamatanya.
Menghapus air matanya.
Terhapus lalu turun lagi.
Seperti siklus yang tak berhenti.
Aku terdiam, dia tertunduk.
Perlahan suara-suara asing terdengar.
Suara-suara khawatir yang bertanya dia kenapa.
Atau mungkin tepatnya suara-suara kaget.
Diam, dia diam tak menjawab.
Tidak terdengar tapi terlihat.
Suara-suara itu semakin ramai.
Semakin keras, semakin cepat.
Pertanyaan yang sama.
Dia kenapa.
Tangannya masih bergerak berusaha menghapus air matanya.
Membenarkan posisi kacamatanya.
Kepalanya kemudian terangkat.
Berdiri menarikku keluar.
Menyepi.
Berdiri berdua.
Di sini di lantai dua.
Menyaksikan puluhan lebah  yang hinggap di pepohonan mengisap nektar.
Beterbangan dan bertebaran mencari nektar.
Perlahan dia mencoba mengurai benang yang sudah sangat kusut.
Benang yang telah mengikat hati yang penuh cinta.
Cinta yang sesungguhnya.
Cinta yang tumbuh karenaNya.
Perlahan demi perlahan.
Meski harus terluka, meski harus menangis.
Berusaha dia terus berusaha mengurai benang itu.
Karena dia takkan pernah mengguntingnya.
Karena dia takkan pernah rela membiarkan ikatan itu terputus.
Hatiku pun terus berteriak.
“ Berhentilah, berhentilah menangis miss.fisika”
Karena kau terlalu berharga untuk terluka.

4 comments:

  1. Hey, kupikir dia tidak lagi bersedih -_- dia sudah menjadi awan putih yang berarak dengan indah~

    ReplyDelete
  2. Saat itu dia bersedih bukan karena rumput liar,itu terjadi sebelum dia bercerita tentang rumput liar.

    Ya,sekarang dia sudah menjadi awan putih yang berarak dengan indah~

    ReplyDelete